Divonis Kanker Stadium IVa, Wanita Ini Sembuh dengan Tembakau

0
1121

inatonreport.com – Farida (53) tak menyangka dengan kondisi hidupnya saat ini ia seolah mendapat anugerah dari Tuhan berupa kesembuhan.

Jauh sebelum dalam kondisi yang sekarang ini, ia hampir pasrah menerima keadaan, yaitu ketika divonis menderita penyakit kanker stadium IVa.

Dia menyadari, dengan penyakitnya itu, harapan hidupnya menipis. Masa hidupnya tinggal menunggu waktu. Dia pasrah jika ajal menjemput. Namun sebelum ajal tiba, Rida berkelakar ingin akhir manis dalam kehidupannya.

Namun, takdir ternyata berkehendak lain. Rida justru diberi anugerah kesembuhan. Uniknya, proses penyembuhan dilakukan dengan tidak menjalani proses operasi.

Pengobatan dilakukan melalui melalui terapi “balur” rokok. Rida kini pun tidak lagi mengeluh kondisi tubuhnya. Ia mulai tahap penyembuhan.

Keberadaan tembakau dikampanyekan sebagai hal mengganggu kesehatan. Namun, tembakau dalam kadar tertentu dianggap bisa digunakan untuk kepentingan kesehatan.

NIKOTIN, hal berbahaya dari tembakau diklaim mempunyai sejumlah manfaat bagi kesehatan. Dalam kadar tertentu, unsur dalam nikotin seperti aurum mempunyai kandungan positif bagi kesehatan manusia.

Pengelola rumah sehat Malang, Doktor Saraswati mengatakan, pengobatan melalui tembakau adalah cara untuk membalikkan persepsi pemikiran bahwa tembakau adalah hal yang harus dijauhi. Tembakau adalah tanaman pemberian Tuhan yang semestinya bisa digunakan untuk kepentingan manusia.

Saraswati mencontohkan, kebiasaan orang yang mengunyah tembakau di dalam mulut. Perempuan jawa, terutama yang berusia lanjut terbiasa menguyah tembakau. Hal demikian, kata dia, berimbas positif bagi kesehatan perempuan.

“Mereka yang ‘nginang’ itu ternyata bisa membunuh glokas. Kulit giginya juga tidak iritasi, justru baik-baik saja, kekuatan giginya justru malah lebih baik,” kata Saraswati, Selasa (25/4) lalu.

Tembakau bisa difungsikan untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Melalui pola pengobatan detoks, racun dari dalam tubuh dikeluarkan. Metode pengeluaran racun atau merkuri bisa diterapkan melalui terapi balur, atau melalui rokok kesehatan.

Pola pengobatan ini bisa mengganti sel-sel yang mati.

“Jadi pola pengobatan ini sudah ada sejak 2007. Sebelum pengobatan diterapkan, tentu ini sudah dikaji di laboratorium, dan itu berhasil,” kata Saraswati.

Cerita kesembuhan melalui terapi rokok ini salah satunya dirasakan oleh Farida (53), perempuan berhijab yang saat ini mengajar di salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang.

Farida yang menderita kanker ganas tiba-tiba merasa sembuh melalui sejumlah terapi rokok (tembakau). Pengobatan dilakukan rutin selama satu kali dalam sepekan, hingga akhirnya bisa kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Saya enggak bisa menyebutkan ini menyambuhkan atau tidak. Tapi yang saya rasakan dampaknya sangat terasa, pendarahan berkurang, badan ada tenaga, sudah gak pucat lagi,” ujar Rida, kepada Kompas.com.

Ia juga menceritakan sejumlah kolega yang bersama-sama menjalani perawatan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Temannya menderita penyakit jantung. Dalam jejak rekam medis, jantung sudah berlubang. Uniknya, sepekan setelah terapi, jantung yang berlubang mulai tertutupi.

“Jadi sebelum ke balur harus ada analisis hasil medik dari dokter, itu syaratnya,” kata dia.

Belum teruji klinis

Dosen promosi kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Nur Jannah mengatakan, proses pengobatan melalui tembakau belum teruji secara klinis. Uji coba kesehatan, kata dia, harus melalui percobaan yang panjang, serta eksperimen yang terukur.

Jannah melihat bahwa pengobatan itu belum bisa diakui karena masih tahap laboratorium.

Penolakan lainnnya, yaitu penemuan pengobatan tembakau belum dipublikasi di jurnal internasional. Jika memang sebagai pengobatan, mestinya melalui uji klinis, yaitu di laboratorium, binatang percobaan, sampai uji coba ke manusia.

“Saya melihat itu belum sampai di sana, tapi baru sampai di efek nano, dan diuji coba melalui metode balur,” kata Nur Jannah kepada Kompas.com, Rabu (3/5/2017).

Dia menyanggah tentang manfaat aurum ke dalam tubuh. Dalam tubuh manusia, kata Nur Jannah, memang dibutuhkan zat yang bersifat mikro dan makro. Tubuh, misalnya, membutuhkan zat besi dalam takaran tertentu. Aurum juga memungkinkan hal yang sama.

Jannah menegaskan bahwa dalam asap rokok mengandung zat berbahaya yang lain, salah satunya tar. Pemasukan aurum, lalu zat lain yang berbahaya justru membahayakan kesehatan tubuh.

“Itu aneh. Kalau pengobatan diambil bahan aktif dari zat lain juga bahaya. Efek nikotin misalnya itu memicu dopamin, bahwa ada zat dikeluarkan oleh otak membuat nyaman, enak dan tenang. Saya rasa kesembuhan perlu dibuktikan dari efek nikotin,” jelasnya.

“Suatu yang belum jelas publish-nya belum bisa dikatakan penelitian yang dipercaya. Jadi seperti pseudo science atau ilmu pengetahuan yang dipakai untuk membenarkan sesuatu. Sejauh yang saya baca di jurnal bahwa asap rokok berbahaya,” katanya.

Menurutnya, dalam posisi seseorang enggak ada harapan, medis lama dan mahal, maka pengobatan rokokjadi alternatif. Itu belum ada standardisasi, tetapi dipercaya ada efek yang nyata.

Bahaya nikotin

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Ria Husada Jakarta Timur yang juga dokter ahli kandungan, dr Hakim Sorimuda Pohan, mengatakan bahwa tembakau membuat ketagihan karena ada kandungan berbahaya, yaitu nikotin.

Tingkat kecanduan untuk berhenti mengonsumsi nikotin, menurut ilmu kedokteran lebih berat dibanding meminum kopi atau mengkonsumsi barang terlarang seperti ganja, nikotin, alkhohol, heroin, dan morfin.

“Ganja, miras, morfin, rokok adalah kecanduan adiktif yang sulit untuk berhenti. Rokok mudah diperoleh dengan harga murah. Seorang di tempat bebas tinggal merokok tanpa takut dikejar, dan itu beda dengan ganja, morfin, yang dikejar polisi,” kata Hakim kepada Kompas.com,Jumat (5/5/2017).

Anggota Komnas Pengendalian Tembakau ini berharap masyarakat diberi pencerdasan soal bahaya nikotin. Asap rokok mengandung banyak racun kimia. Dalam publikasi terkini, ada 6.000 racun kimia, dua di antaranya sianida dan arsen.

“Asap rokok mengandung 6.000 bahan kimia ini dosisnya kecil, jadi ketahuan setelah 30-40 tahun. Merokok adalah tindakan bunuh diri secara perlahan,” tambahnya.

Terkait temuan tembakau untuk kesehatan, Hakim tidak sependapat soal inovasi itu. Pihak penggagas, sambung dia, tidak bisa menjelaskan soal yang dimaksud dengan molekul kecil atau yang disebut nano.

“Riset soal tembakau sudah ada sejak dulu, dan itu dipublikasikan secara ilmiah. Kalau protes dilakukan secara ilmiah, jangan dimasukkan ke ranah populer,” pintanya.

Hakim pun yakin bahwa temuan tembakau untuk kesehatan tidak akan diterima di kalangan dunia ilmiah. Ia yakin karena hal demikian tidak masuk akal.

“Masyarakat awam jangan mudah percaya,” tambahnya.

sumber: kompas.com

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.